اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Kamis, 29 September 2011

Perjanjian dalam Islam

Saat ini sedang semarak-semaraknya orang ingin menjadi pemimpin yang dapat memiliki kekuasaan dan kewenangan seutuhnya. Baik dalam bidang pemerintahan maupun pendidikan.

Mulai dari Dewan legislative, RT, RW, Lurah, Camat, Bupati/Wali Kota, Gubenur, Mentri, Presiden, Wakil Kepala Sekolah, Kepala Sekolah, Kepala Dinas Pendidikan, bahkan sampai siswanya ada wadah untuk menjadi pemimpin yaitu OSIS.

Selain memiliki kekuasaan dan kewenangan seutuhnya, menjadi pemimpin juga memiliki penghasilan yang relative besar. Hal ini yang menjadi salah satu sasaran bagi yang mempimpin karena rupiah. Namun di balik itu semua, pemimpin memiliki beban yang sangat berat. Beban untuk menepati janji-janji yang pernah diucapkan saat kampanye. Janji ini tidak bisa main-main, sebab janji adalah hutang, hutang wajib dibayar, dan jika tidak dibayar di dunia pasti akan ditagih di akhirat.


Terkadang manusia sulit untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga rela melakukan apapun demi sesuatu yang ingin ia raih. Salah satunya demi jabatan, ia rela mengucapkan janji-janji yang mungkin sulit untuk dilaksanakan.

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (Q.S Al Anfaal:55)

“(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka menghianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya)” (Q.S Al Anfaal:56)

Jadi berpikirlah saat akan berjanji, ucapkanlah janji yang sekiranya dapat ditepati. Sehingga tidak ada orang yang menagih janji seperti lagu band Nidji “mana janji manismu?” hehe.


“dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjiaan itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S Al Anfaal;58)

Nah, berarti jika kita ragu-ragu atau khawatir akan adanya penghianatan maka cepat-cepat kembalikan atau batalkan janji itu dengan cara yang jujur. Jadi deh nyanyi lagu Rio Febrian “oh.. maaf.. maafkan diriku”. :)

2 komentar: