www.fppiunila.co.cc
Akibat Butir Langit
Di saat mentari telah tinggi, aku dan temanku Nindya dipanggil oleh Pak Zainal, salah satu guru di sekolah kami. Aku dan Nindya tak tahu tujuan Pak Zainal memanggil kami.
Dengan seribu tanya aku dan Nindya berjalan menuju kantor tempat Pak Zainal berada. Sesampainya di kantor ternyata Pak Zainal sudah menunggu kami.
“Assalamualaikum.” sapaku dan Nindya secara bersamaan kepada Pak Zainal.
“Waalaikumsalam.” tersenyum Pak Zainal kepada kami.
“Maaf Pak menggangu. Ada apa, Bapak memanggil kami?”
“Oh, iya. Bapak dengar kalian sudah membuat karya tulis ilmiah, benar?”
“Iya pak, benar. Kata Ibu Mira karya tulis ilmiahnya akan dikirim besok melalui kantor pos.”
“Nah, itu dia masalahnya. Besokkan hari minggu, kantor pos tutup. Sementara kalau hari ini, Ibu Mira tidak ada. Bapak sudah coba telpon berkali-kali, namun nomor hpnya tidak aktif. Jadi bagaimana?”
“Aduh, bagaimana ya pak?”
“Bapak juga tidak tahu. Kalian saja yang ke kantor pos, sebab Bapak sedang sibuk jadi Bapak tidak bisa mengantarnya dan guru-guru yang lain juga sedang sibuk. Ya kalau kalian memang tetap ingin mengirim karya tulis ilmiah milik kalian, ya kirim saja sendiri.” jawab Pak Zainal.
“Untuk transportnya bagaimana Pak?”
“Nah, ini lagi masalahnya. Biaya transportasinya belum cair, jadi pakai uang kalian dulu saja.”
“Huh …!” desah Nindya. Kami hanya tertunduk lesu, mulai hatiku berdemostrasi. Betapa tak pedulinya mereka kepada kami. Ya, walau aku tahu kami belum tentu menang dalam lomba itu dan mungkin kami hanya akan menjadi pecundang pada perlombaan tingkat nasional itu. Namun, tidak adakah setetes embun yang dapat menyejukkan hati kami.
Nindya mengajakkku ke tempat parkir di sekolah, di sana telah duduk pak satpam. Beliau hanya membekali kami seuntai kertas tanda surat izin dari sekolah. Aku lihat senyum Nindya yang begitu cerah, tak terserit sedikit pun kekesalan dalam senyumannya. Sesampainya kami di kantor pos Fajar Bulan, lagi-lagi bukan sapaan manis yang kami dapatkan melainkan celotehan Pak pos yang sungguh tak enak didengar olehku.
“Assalamualaikkum.” sapa kami kepada Pak pos.
“Waalaikumsalam, ada apa? kalian mau mengirim surat?”
“Iya, Pak. Kami mau mengirim surat. Masih bisa Pak?”
“Bukannya dari tadi pagi, siang begini baru mau mengirim. Sekarang kantor pos sudah tutup, mobil posnya pun sudah pergi dari tadi.”
“Ayo pak tolong kami, kali ini saja. Kami hanya butuh cap posnya, Bapak mau mengirimnya besok atau lusa pun tidak apa-apa, yang terpenting cap posnya hari dan tanggal sekarang Pak.” bujuk kami kepada Pak pos.
“Oh, tidak bisa. Sudah saya bilang kantor pos sudah tutup, jadi tidak ada cap pos atau pun kirim-kiriman. Kalau kalian mau, pergi saja ke kantor pos Sumberjaya mungkin masih buka.”
Aku dan Nindya langsung menaiki sepeda motor bertujuan untuk pergi kek kantor pos Sumberjaya, hanya dengan bermodal nekat. Padahal kami sama sekali belum mengetahui lokasi kantor posnya. Kalbuku semakin lumpuh, akibat cuaca tak mendukung kami, tetesan air langit begitu deras menerpa kami. Namun, Nindya tetap mengendarai sepeda motornya, ia begitu antusias.
“Kamu lihat sebelah kiri, aku lihat sebelah kanan ya. Mungkin nanti ada tuliasan kantor pos.” perintah Nindya.
“Ya, Nin.” jawabku.
Mondar-mandir kami mencari kantor pos, berkali-kali kami bertanya kepada pemilik rumah yang berada di pekon Sumberjaya, salah satu tempat yang pernah dikunjungi presiden Soekarno saat peresmian menjadi sebuah kecamatan di Lampung Barat. Namun, mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda, kami bertambah bingung. Tiba-tiba jantungku minciut, seraya aku melihat mobil pos Indonesia berwarna kuning seperti buah pepaya melintas di pengllihatanku.
“Pak…Pak…Pak, berhenti Pak!” teriak aku dan Nindya berusaha memberhentikan mobil tersebut.
Kebetulan, sungguh kebetulan mobil itu langsung berhenti di depan kami. Naluriku serentak bersorak bak bertemu malaikat yang akan membawa kami ke surga, aku langsung turun dari sepada motor dan berlari menuju mobil pos dan syukurnya Pak pos dalam mobil itu mau menerima berkas kami. Ya, hatiku sungguh terasa lega, kini baju kami telah basah kuyup. Butiran langit yang terus bertaburan membuat kulit kami daun mengeriput selayaknya aku dan Nindya saat itu.
Selang seminggu kemudian, saat aku dan Nindya sedang makan di kantin. Pak Zainal menghampiri kami. Beliau memberitahukan bahwa kami masuk tahap presentasi. Esoknya kami berangkat menuju kota Bandar Lampung tempat presentasi dilaksanakan. Sejak itu aku sangat akrab dengan Nindya, bahkan seperti saudara. Sikapnya yang begitu dewasa membuat aku nyaman bersamanya dan syyukurnya di perlombaan itu kami mendapatkan juara ketiga. Tapi hal ini cukup membanggakan. Kami yangb berasal dari daerah dapat mengalahkan peserta dari daerah lain yang lebih maju dai kami. Di sekolah kami mendapat sambutan yang sangat luar biasa, karena telah mengharumkan nama sekolah.
Sore itu, kami berniat untuk melaksannakan syukuran di Rest Area tempat yang menurutkku sungguh indah, berada di puncak. Di sana kami bisa melihat indahnya pegununngan, perkebunan, rumah penduduk, dan alam Lampung Barat. Semakin lama, aku semakin gelisah. Sebentar-sebentar aku melihat jam tanganku, berharap Nindya cepat tiba. Ku tengok lagi jam bundar di tanganku yang terus berputar, sudah lebih dari dua jam aku menunggunya. Namun, tidak muncul juga batang hidungnya. Mulai firasat buruk menyiram pikiranku. Aku mulai kesal kepada Nindya. Jangan-jangan dia tidak datang. Atau Nindya ingin mengerjaiku.
Aku bertambah kesal ketika yang datang bukan Nindya malah justru Siska. Kali ini Siska terlihat tergopoh-gopoh, mukanya sungguh pucat.
“Lia, cepat ikut aku ke puskesmas! Nindya kecelakaan, ia tertabrak mobil bus saat menuju kesini. Nindya terluka parah.”
Tanpa pikir panjang aku ikut Siska dengan perasaan tak menentu yang penuh kegalauan, naluriku mulai mengutuk diriku sendiri. Aku yang bersalah. Akulah yang sungguh bersalah. Sahabat macam apa aku. Perasaankku sungguh kacau balau. Sesampainya di puskesmas Fajar Bulan, aku langsung memeluk Nindya yang kini telah tak sadarkan diri.
“Lia,” suara itu sungguh terdengar miris di telingaku, namun itu sudah sangat cukup bagiku untuk mendengarnya.
“Maafkan aku, aku tak bisa menghadiri acara yang kita rencanakan. Maafkan aku. Aku sungguh sangat sayang padamu Lia.”
Betapa terkejutnya aku, jantungku menciut seakan aku terbang kelangit ke tujuh, sungguh kakiku terasa tidak menapak lagi ketika kutahu Nindya telah tak bernafas lagi. Aku menangis sejadi-jadinya, belum pernah sekalipun aku menemui teman yang begitu baik seperti dia, entah sampai kapan penyesalan ini akan berakhir.
Rabu, 30 Maret 2011
Puisi
HANYA NAFAS IMITASI
Berangan masa depan
Gapai asa dalam jiwa
Hiburan hanya nafas imitasi
Lentera firdaus adalah belajar
Fokus jembatan cita
Terbitkan surya
Musnahkan petir cinta
Pagar bambu muda
Kirim hujan reda asmara
LEKUNG KEHIDUPAN
Bumi masih berputar pada porosnya
Merevolusi zaman purbakala menjadi milenium
Tuntut ilmu sampai Ijroil menyapa
tuk lepas dari belenggu jahiliah
singkirkan virus penghancur kehidupan
demi cerita indah yang akan datang
lekung kehidupan adalah tantangan
tuk raih kesentausaan
IALAH DAMBAAN
Berangan jumpa di akhir zaman
Dekat sang khalifah yang dekat dengan perjuangan
Cela disambung hujatan bukan halangan
sebab Islam agama yang penuh iman
Firdaus lokasi kebahagiaan
Karena jumpa sang dambaan
Tiap jemari ada serbuk keindahan
Maka bukalah pintuMu
Karena berlimpah berkah juga dambaan
Berangan masa depan
Gapai asa dalam jiwa
Hiburan hanya nafas imitasi
Lentera firdaus adalah belajar
Fokus jembatan cita
Terbitkan surya
Musnahkan petir cinta
Pagar bambu muda
Kirim hujan reda asmara
LEKUNG KEHIDUPAN
Bumi masih berputar pada porosnya
Merevolusi zaman purbakala menjadi milenium
Tuntut ilmu sampai Ijroil menyapa
tuk lepas dari belenggu jahiliah
singkirkan virus penghancur kehidupan
demi cerita indah yang akan datang
lekung kehidupan adalah tantangan
tuk raih kesentausaan
IALAH DAMBAAN
Berangan jumpa di akhir zaman
Dekat sang khalifah yang dekat dengan perjuangan
Cela disambung hujatan bukan halangan
sebab Islam agama yang penuh iman
Firdaus lokasi kebahagiaan
Karena jumpa sang dambaan
Tiap jemari ada serbuk keindahan
Maka bukalah pintuMu
Karena berlimpah berkah juga dambaan
Langganan:
Komentar (Atom)